tafsir ayat ayat tentang malaikat
MAKALAH
AYAT AYAT
TENTANG MALAIKAT
Diajukan Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Tafsir II
Disusun Oleh:
Mida Hardianti : 1141030119
Kurniawan Suganda : 1141030107
Kelas : TH C III
Kelompok : 3
JURUSAN TAFSIR
HADITS FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG
DJATI
BANDUNG
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT.
Atas rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ayat-Ayat
Tentang Malaikat” Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan
kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, tabiin dan kita semua yang taat
dan turut terhadap ajaran yang dibawanya. Dan semoga mendapatkan syafaat di
yaumul akhir. Aamiin
Tak ada gading yang tak retak, tetapi dalam retaknya gading itu
terdapat kesempurnaan. Begitupula tidak ada karya manusia yang sempurna tetapi
dalam ketidak sempurnaan itu terdapat semangat kesempurnaan. Oleh sebab itu
dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dengan itu penulis
mohon kritik dan sarannya yang dapat mendekatkan pada kesempurnaan.
Penulis berharap makalah ini manfaat bagi penulis, pembaca dan bagi
siapa yang membutuhkan aamiin.
Bandung, Desember 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI .................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................
A.
Latar
belakang ........................................................................................................ 4
B.
Rumusan
masalah ................................................................................................... 4
C.
Tujuan
..................................................................................................................... 4
BAB II Pembahasan ............................................................................................... ......... 5
A.
Pengertian
Malaikat ....................................................................................... ......... 7
B.
QS
Al-Nahl 49 ..............................................................................................
a.
Pendekatan
Linguistik ....................................................................... ......... 7
b.
Pendekatan
Sufistik .......................................................................... ......... 8
c.
Pendekatan
Kemukzijatan al-Qur’an ................................................ ......... 9
d.
Pendekatan
falsafi ...................................................................................... 9
C.
Al-Anbiya
19-20 ........................................................................................... ......... 11
a.
Pendekatan
Linguistik ...................................................................... ......... 11
b.
Pendekatan
Sufistik .......................................................................... ......... 12
c.
Pendekatan
Teologis ......................................................................... ......... 12
D.
As-Saffat
164-166 ................................................................................................. 13
E.
Jumlah
Malaikat ............................................................................................ ......... 15
F.
Al-Haqqah
17 ...............................................................................................
a.
Pendekatan
Linguistik ....................................................................... ......... 16
b.
Pendekatan
Sufistik .................................................................................... 16
G.
Al-Muddatsir
30 ............................................................................................ 17
BAB III Kesimpilan dan Saran
............................................................................ ......... 20
A.
Kesimpulan
................................................................................................... 20
B.
Saran
............................................................................................................. ......... 20
Daftar Pustaka ................................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Semua mahkluk
yang diciptakan oleh Allah SWT dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu, ghaib
(al-ghaib) dan nyata (as-syahadah). Yang membedakan mahkluk ciptaan Allah itu
adalah bisa dan tidak bisanya dijangkau oleh pancaindera manusia. Segala
sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh pancaindera manusia digolongkan menjadi
al-ghaib, dan sebaliknya. Dasar-dasar pokok keimanan dalam islam ada enam, yang
diantaranya terdapat iman kepada Malaikat Allah.
Iman terhadap malaikat merupakan
rukun iman bagi setiap muslim, iman kepada malaikat adalah percaya bahwa para
malaikat itu ada. Mereka hidup di alam gaib, yang tidak ada satu pun manusia
tahu hakikat mereka selain Allah. Sebagaimana diketahui mereka dari ayat-ayat
dan hadis-hadis saja, selebihnya manusia tidak mampu menyingkap kehidupan
malaikat yang sebenarnya. Orang yang tidak percaya keberadaan malaikat, ia
terhitung sebagai manusia yang sangat sesat. Sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam
firman-Nya,
وَمَنْ يَكْفُرْ
بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلالا بَعِيدًا
Artinya : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian,
maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (Q.S An-Nisa[4]136)
Jelaslah wajib mengimani adanya malaikat karena ini merupakan
perkara yang sangat penting dalam akidah. Namun jangan sampai memahami malaikat
tanpa pengetahuan yang pasti dari dalil dan nas, karena bisa terjerumus pada
kesesatan.
B.
Rumusan Masalah
·
Apa
pengertian dari malaikat ?
·
Bagaimana
penjelasan ayat-ayat tentang malaikat menurut al-Qur’an
C.
Tujuan
·
Untuk
mengetahui pengertian malaikat
·
Untuk
mengetahui penjelasan ayat-ayat tentang malaikat menurut al-Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Malaikat
Istilah malaikat
dalam al-Qur’an banyak ditemukan dengan menggunakan istilah yang
berbeda-beda. Al-Qur’an sering memakai istilah malak, malakan,
malaikat dan malakain. Penyebutan tersebut di ulang sekitar 88 kali dalam
ayat yang berbeda.
Kata malaikat
adalah bentuk jamak dari kata malak yang berarti menguasai. Hal
ini memberikan pengertian bahwa malaikat adalah makhluk yang mempunyai tugas
untuk menguasai alam dalam arti fisik. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata malak
adalah derivasi dari kata alaka atau ma’lakah yang mempunyai
arti “mengutus” atau “perutusan/risalah”.
Pengertian ini
menunjukan bahwa tugas rohani malaikat adalah sebagai perantara (perutusan)
antara Allah dan manusia. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa kata malak adalah
kata yang terbentuk dari akar kata (adat khat Arab) la a ka yang berarti
menyampaikan sesuatu. Malak/malaikat adalah makhluk yang bertugas
menyampaikan sesuatu dari Allah SWT kepada makhluk.[1]
Kata malaikat
juga berarti suatu sifat yang melekat pada pribadi, atau potensi rasional (istidladh
al-aql) yang berfungsi mengaktualisasikan kerja-kerja atau perilaku
tertentu melalui kecerdasan dan kemahiran, seperti halnya potensi berhitung dan
berbahasa. Potensi itu pada taraf tertentu dapat melekat pada pribadi seseorang
yang memilikinya dan biasanya akan berakhir begitu saja. Pengertian ini menunjukkan pada sebuah
gejala kejiwaan, dimana jika seseorang yang dalam jiwanya memiliki
potensi-potensi seperti potensi para malaikat, maka ia disebut sebagai adamiyan
malakiyan, keadaan seperti ini bisa saja terbalik sebagai lawan dari sifat
di atas, maka ketika satu kondisi menunjukan pada bentuk-bentuk sikap yang
jelek, secara otomatis ia disebut manusia berjiwa setan atau adamiyan
syaithaniyan.[2]
Ada juga yang mendefinisikan bahwa malaikat itu adalah nama untuk
kekuatan-kekuatan alam yang mendorong kepada kebaikan dan kebahagiaan.[3]
Malaikat adalah
makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari cahaya yang diberi bentuk oleh Allah dengan
beraneka macam bentuk dan memilki sayap, dari masing-masing malaikat ada yang
memiliki dua, tiga dan empat hingga tak terhitung jumlahnya dan ia diciptakan
sebagai utusan dan perantara Allah SWT kepada makhluknya. Pemahaman seperti ini
dapat dilihat pada permulaan QS. Al-Fathir [35]: 1 :
الْحَمْدُ لِلَّهِ
فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى
وَثُلاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ
Atinya :
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat
sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai
sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada
ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.”
Banyak ulama
berpendapat bahwa malaikat adalah makhluk halus yang diciptaka Allah dari
cahaya yang mempunyai kekuatan untuk mengubah dirinya menjadi makhluk lain,
yang taat mematuhi perintah Allah dan sedikitpun tidak pernah membantah atas
apa yang telah Allah perintahkan. Muhammad Sayid Tanthawi mantan mufti Mesir
dalam pendapatnya yang dikutip oleh Quraish Shihab mengatakan bahwa :
Malaikat adalah tentara Tuhan. Tuhan menganugrahkan kepada mereka
akal dan pemahaman, menciptakan bagi mereka naluri untuk taat, serta memberi
mereka kemampuan untuk berbentuk dengan berbagai bentuk yang indah dan
kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan yang berat.[4]
1.
An-Nahl [16] : 49
وَلِلَّهِ
يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ
وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ
Artinya: “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang
berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para
malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.”
Allah SWT memberitahukan tentang
keagungan, kemuliaan, dan kebesaran-Nya, dan segala sesuatu termasuk makhluk
secara keseluruhan harus taat, baik benda mati, binatang maupun yang
mendapatkan beban syariat dari kalangn manusia, jin, juga malaikat.[5]
“Dan (juga) para Malaikat, sedang
mereka (para Malaikat) tidak menyombongkan diri.” Artinya, para malaikat itu bersujud kepada Allah SWT. Mereka tidak
merasa sombong untuk beribadah kepada Allah SWT. Mereka bersujud dalam keadaan
takut dan tunduk malu kepada Rabb yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Para
malaikat benar-benar mentaati Allah dan menjalankan semua perintah-Nya serta
meninggalkan semua larangan-Nya.[6]
·
Pendekatan
Linguistik (kebahasaan)
Menurut tafsir Nurul Qur’an: Istilah
دَابَّةٍ “dabbah”
dalam bahasa Arab, merujuk pada makhluk hidup yang bergerak dari
satu tempat ke tempat yang lainya. Istilah ini digunakan untuk manusia,
binatang, juga jin tapi tidak digunakan untuk malaikat.[7]
Sedangkan dalam tafsir al-Misbah,
mengambil dari pendapat As-Sya’rawi menyatakan bahwa jenis benda yang dikenal
oleh manusia bermacam-macam, benda mati dan benda yang berpotensi tumbuh, yakni
tumbuh-tumbuhan. Bila yang tumbuh itu
dapat bergerak dan merasa, ia binatang, jika dapat berpikir maka itu manusia,
jika sesuatu dapat memiliki pengetahuan dari dirinya sendiri yang bersifat
nurani, ia adalah malaikat.[8]
Ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara
tentang “apa yang ada dilangit dan bumi” ditemukan bahwa al-Qur’an
menggunakan dua kata yang menunjuk kepadanya. Pertama, ما “ma”seperti ayat yang
ditafsirkan ini oleh bahasa Arab digunakan untuk benda atau makhluk yang tak
berakal. Kedua, adalah kata من “man” yang biasa
digunakan untuk makhluk berakal. Misalnya surat Al-Imran :83 مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ
وَالأرْض Kata ‘siapa’ dalam ayat tersebut dan ayat-ayat semacamnya
dijadikan dasar oleh beberapa ulama untuk menunjuk adanya makhluk “berakal”
di langit. Tapi ayat ini tidak menjelaskan siapa makhluk tersebut.
Ayat yang
ditafsirkan diatas menggunakan kata “dabbah” bahkan dalam QS.asy-Syura
[42]: 29 secara tegas dinyatakan bahwa:
وَمِنْ آيَاتِهِ
خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ
إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ
Ayat ini menjelaskan bahwa pada
langit dan bumi Allah menyebarkan dabbah. Dabbah artinya adalah
makhluk-makhluk melata.
Dari segi bahasa
kata dabbah terambil dari akar kata yang berarti “berjalan dengan
sangat halus”. Beberapa ulama menyebutkan kata ini tidak digunakan dalam
arti malaikat karena gerak malaikat dengan sayap. Para malaikat “memiliki sayap
dua-dua, tiga-tiga dan empat-empat”(QS.
Fathir [35]:1) Menurut pakar bahasa al-Qur’an, Ar-Raghib al-Asfahani,
kata tersebut biasa digunakan untuk jalannya hewan, tetepi lebih banyak
digunakan untuk serangga dan semacamnya yang tidak terjangkau oleh indra.[9]
·
Pendekatan
Sufistik
Dinilai oleh Thaba’thabai’ sebagai argumentasi
yang menunjukan bahwa malaikat sama sekali tidak menyombongkan diri dalam hal
apapun sehingga itu berarti bahwa mereka tidak lengah atau luput ingatan dari
keagungan ilahi dan musyahadah pandangan hati kepadaNya.
Mereka tidak enggan beribadah, tidak satupun
melanggar perintah-Nya. Asy- Sya’rawi dan Thaba’thabai mengatakan bahwa
takutnya malaikat itu yang lahir dari pengetahuan dan kesadaran mereka tentang
kekuasaanNya, bukan merasa karena merasa ada sesuatu yang mengundang siksaNya.
Itu sebabnya ayat tersebut menggunakan kata “Rabbahum” yakni Tuhan
mereka yang selalu berbuat baik dan memelihara mereka bukan takut pada
siksaNya. Juga kesaksian mereka terhadap maqam ilahi yang demikian tinggi
itulah sebab ketakutan mereka.[10]
Jiwa makhluk yang ‘dhaif’
akan terpengaruh dan hatinya akan berdebar saat berhadapan dengan kekuatan yang
dahsyat, walau yang bersangkutan tidak melakukan pelanggaran dan walaupun yang
“bersangkutan tidak melakukan pelanggaran dan walau yang ditakuti itu tidak
akan menjatuhkan sanksi.
Ayat ini
menjelaskan dari benda yang rendah tingkatannya dari benda- benda yang
bergerak, yaitu dabbah sampai ke paling tinggi yaitu malaikat.[11]
·
Pendekatan
Kemu’jizatan al-Qur’an
Para ulama ada yang menjadikan ayat
ini sebagai isyarat tentang adanya makhluk-makhluk hidup di angkasa. Dalam
tafsir Al-Muntakhab dinyatakan bahwa: “Ayat ini telah mendahului
penemuan ilmu pengetahuan modern tentang keberadaan makhluk hidup di beberapa
planet yang berada di dalam dan diluar tata surya kita.” Dan inilah yang
sedang dan akan terus diupayakan untuk diketahui oleh ilmu pengetahuan modern.[12]
·
Pendekatan
Falsafi
QS. An-Nahl 49 mengilustrasikan
betapa para malaikat hanya bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah
kepadaNya tanpa mengurangi dan menambah perintah tersebut. Mereka tidak
menyombongkan diri, berlaku jujur, dan selalu bribadah kepadaNya dengan penuh
kenikmatan yang mereka rasakan ketika hanya beribadah kepadaNya.
Sebagaimana yang dikatakan ar-Razi
dalam menafsirkan QS. al- Baqarah: 285 yang Arinya : “Rasul telah beriman kepada Al Qur 'an yang diturunkan kepadanya
dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka
mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang
lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan
kami ta 'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan
kepada Engkaulah tempat kembali."
Di sini keimanan malaikat kepada
Allah diukur oleh kualitas yang bisa dipercaya. Kinerja para malaikat dalam
perspektif hukum Tuhan sepenuhnya berada dibawah kendali Nya yang bisa
dipercaya dan terpercaya. Sepesialisasi kedudukan dan karakter para malaikat yang unik dan berbeda-beda
untuk melaksanakan perintah Tuhan adalah sebuah kejujuran dan rasa
tanggungjawab para malaikat yang memiliki ibarah bagi pembangunan
masyarakat manusia yang terpercaya atau beriman (tust society).
Maka yang dimaksud membangun
masnyarakat yang briman disini menurut Ahmad Barizi harus dimulai dengan
revolusi secara radikal terhadap semua paradigma, keyakinan dan perilaku yang
menyimpang.
Revolusi yang dimaksud disini adalah
revolusi yang bersifat perbaikan secara mendasar terhadap semua keadaan yang batil
menuju sebuah peradaban baru yang
penuh dengan kebenaran, sebagaimana yang dikatakan H.G Sarwar bahwa permulaan
dari segala kebijaksanaan adalah pendidikan diri sedangkan tujuan
akhirnya adalah keinsyafan diri. Kita memiliki wujud pada Tuhan, namun
tatkala kita melupakannya, maka kita dipisahkan dari prinsip hidup spiritual.[13]
Sebagai konsekuensinya adalah trust
society memerlukan sikap berani, komitmen secara moral dan rela berkorban
demi kepentingan bersama sehingga dengan seperti itu manusia layak disebut sebagaimana manusia
berjiwa malaikat seperti diilustrasika dalam tradisi dunia malaikat yang selalu
menjalankan perintah Allah, jujur dan selalu beribadah sepanjang masa dan hidup dibawah kebenaran hukum Tuhan.
2.
Al-Anbiya [21]: 19-20
وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَنْ
عِنْدَهُ لا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلا يَسْتَحْسِرُونَ
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يَفْتُرُونَ
Artinya:“Dan
kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang
di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada
(pula) merasa letih. Mereka selalu
bertasbih malam dan siang tiada
henti-hentinya.”
Allah SWT menggambarkan
tentang peribadatan Malaikat kepada-Nya dan adat kebiasaan mereka yang berada
dalam ketaatan di waktu malam dan siang. Dia berfirman : وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ”
yaitu para Malaikat, لا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ
“Mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya” yaitu
tidak merasa enggan untuk beribadah.[14]
·
Pendekatan Linguistik
وَمَنْ عِنْدَهُ
maknanya yang dapat dipahami langsung adalah malaikat malaikat.[15] Namun, Sayyid Quthb dalam
tafsirnya tidak membatasi dan tidak menentukan selama nash muncul muncul dengan
makna umum yang mencakup para malaikat dan selain daripada mereka. Yang dapat
dipahami dari ungkapan ayat diatas bahwa para malaikat adalah makhluk yang
paling dekat dengan Allah. karena menurutnya, kata “man” dapat mencakup
malaikat dan selain mereka. Kata “inda” yang bermakna disini bila
dihubungkan dengan Allah tidak menunjukan tempat dan tidak pula menunjukan
sifat-sifat tertentu.
Menurut Zamaksyari, Kata يَسْتَحْسِرُونَ
terambil dari kata‘hasara’yang pada mulanya digunakan dalam arti letih
atau jemu. Penambahan huruf ‘ta’ mengandung makna kesungguhan.
Ini mengisyaratkan bahwa ibadah yang mereka lakukan itu bukan saja dapat
menimbulkan keletihan biasa, tetapi keletihan dan kejemuan luar biasa jika
diukur dengan kemampuan manusia. Namun para malaikat itu tidak disentuh
sedikitpun dengan keletihan. [16] mereka terus menerus
dalam beramal siang dan malam, mereka taat dalam niat dan amal serta mampu
dalam semua itu.
·
Pendekatan Sufistik
Jika dihubungkan dengan manusia, ayat ini berbicara bahwa manusia
juga dapat menjadikan seluruh hidupnya dengan beribadah seperti yang dilakukan
oleh malaikat. Karena Islam menganggap segala gerakan dan nafas sebagai ibadah
diniatkan hanya karena Allah. Walaupun hal itu merupakan kesenangan materi
dengan menikmati kebaikan-kebaikan kenikmatan duniawi.[17]
·
Pendekatan Teologis
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يَفْتُرُونَ
Para malaikat tidak pernah bosan untuk
bertasbih siang dan malam, ini mengindikasikan bahwa bertasbihnya malaikat
merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan dalam melaksanakan perintah Allah tanpa
adanya sedikit pembangkangan. Bertasbih dalam hal ibadah malaikat terdapat
banyak perbedaan penafsiran ulama, apakah bertasbih dengan maksud mensucikan
Allah dari hal-hal lain, ataukan bertasbih dengan bentuk yang lain yang tidak
mungkin sama dengan manusia.
Ir. Mohammad Syahrur dalam al-Kitab
wa al-Qur’an menafsirkan istilah tasbih dengan “gerak hukum alam
dalam wilayah kosmos”. Gerak tersebut dalam istilah hukum evolusi disebut “gerak
dialektika internal”[18] atau “nagasi dan
penagasiannya” sedangkan dalam al-Qur’an disebut dengan altasbih.
Lebih lanjut Syahrur menjelaskan bahwa
kata tasbih adalah derivasi dari kata sa ba ha, yang memiliki
arti bergerak secara terus menerus layaknya mengapung di atas air sebagaimana
dalam al-Qur’an QS. al-Anbiya dijelasskan “masing-masing (bergerak) dalam
orbitnya.
Hukum gerak seperti ini menurutnya
berlaku selama kosmos itu ada, lalu
kemudian akan hancur setelah peniupan sangkakala yang pertama dan akan kemabali
terwujud dengan dimensi kosmos yang sama sekali berbeda dengan kosmos yang
terdahulu setelah peniupan sangkakala yang selanjutnya oleh malaikat.
Sedangkan ungkapan subhanalloh yang
diucapkan umat islam dalam shalat atau dalam hal-hala lain, menurutnya diatikan
sebagai bentuk pengakuan atau ikrar manusia sebagai makhluk yang memiliki
kesadaran terhadap hukum.[19]
3.
A-Shaffat [37] :164-166
وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ . وَمَا مِنَّا إِلا
لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ
وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ
Artinya: “Dan
tiada seorangpun di antara kami (malaikat)
melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, (164)“Dan sesungguhnya kami
benar-benar bershaf-shaf.”(165)“Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih
(kepada Allah)”(166)
Ayat ini
mejelaskan bahwa malaikat mempunyai kedudukan khusus di langit juga berbagai
kedudukan ibadah yang tidak pernah dilanggar dan tidak pula dilampaui.[20]“Dan
sesungguhnya kami benar-benar bersyaff-shaff,” maksudnya berdiri
bersyaff-syaff dalam ketaatan, sebagaimana yang telah diungkapkan al-Qur’an: “Demi
(rombongan) yang bersyaff-syaff dengan sebenar-benarnya,”
Ibnu Juraij menceritakan
dari al-Walid bin ‘Abdillah Abu Mughits, dia berkata bahwa mereka tidak berdiri
bersyaff-syaff, sehingga turun ayat.”wainna lanahnu shofun” ‘Dan
sesungguhnya kami benar-benar bersyaff-syaff (dalam menunaikan perintah Allah) maka
setelah itupun mereka bersyaff-syaff.[21] وَإِنَّا لَنَحْنُ
الصَّافُّونَ “Dan sesungguhnya
kami benar-benar bershaff-shaff”. Yaitu, berdiri bershaff-shaff dalam
ketaatan.
Dan sesungguhnya
kami bukanlah orang orang kafir sebagai mana kamu, tetapi kami adalah
mahkluk yang benar benar bershaff-shaff berbaris teratur dalam beris ada dan
menunaikan perintah Allah. Dan
sesungguhnya kami benar-benar para pentasbih, yakni yang selalu menyucikan
Allah dari segala sifat yang tak wajar disandangNya.
Banyak ulama yang memahami ayat ini merupakan ucapan
malaikat dan mengaitkanya dengan awal surah yaitu ayat 1-3 surah ini dimana
Allah bersumpah dengan malaikat yang bershaf-shaf dengan shaf yang rapi.
Thabathaba’i[22] memahami
ayat-ayat diatas dengan arti: Dan tidak
satupun diantara kami melainkan mempunyai kedudukan tertentu sesuai yang telah
digariskan oleh Allah. Masing-masing kami tidak bisa melampaui batas ketentuan
itu, karena kami telah diciptakan hanya untuk taat kepada Allah, dan kami
benar-benar bershaf-shaf di sisi Allah menanti perintahNya dalam mengatur alam
raya serta melaksanakan apa yang dikehendakiNya.
Ibn Asyur[23]
juga memahami sebagai uraian menyangkut malaikat. Nabi Muhammad SAW membaca
ayat ini ketika memerintahkan para sahabat meluruskan shaf dalam shalat sambil
bersabda: “Tidakah kalian bershaf sebagaimana para malaikat bershaf? ”Bagaimana
mereka melakukan shaf?” tanya para sahabat. Beliau menjawab “Mereka
menyempurnakan shaf pertama dan meluruskannya” (HR.Muslim melalui Jabir Ibn
Abdillah).[24]
Ada juga yang memahaminya dalam arti ucapan Nabi Muhammad
SAW seakan-akan beliau berkata: tidak ada seorangpun diantara makhluk kecuali
mempunyai kedudukan tertentu yang tidak lebih dari kedudukan sebagai
makhluk-makhluk Allah dan harus tunduk beribadah kepadaNya. Imam Malik
menyatakan bahwa tadinya para sahabat Nabi SAW shalat terpencar-pencar dan
setelah turunya ayat yang berbunyi: Inna la Nahnu ash-shaffun, Nabi saw.
memerintahkan agar mereka bershaf.[25]
B. Jumlah Malaikat
Malaikat
merupakan makhluk yang Allah ciptakan dengan jumlah yang banyak. Karena
jumlahnya yang banyak, maka tidak ada seorangpun yang bisa menghitungnya
kecuali sang Penciptanya. Berkaitan dengan itu Quraish Shihab memberikan
penjelasan mengenai malaikat yang tidak bisa dihitung melalui ayat yang
berbunyi:
1)
Al-Haqqah [69]:17
وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ
رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ
Artinya: “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru
langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”
Firman Allah SWT, “Dan pada hari
itu delapan orang malaikat menjungjung ‘Arsy Tuhanmu diatas (kepala) mereka,”yakni
pada hari kiamat delapan malaikat menjungjung arsy.
Diriwayatkan dari
Jabir bin Abdilllah bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
“Aku diberi izin membicarakan tentang malaikat, diantaranya adalah
malaikat yang memikul Arsy antara daun telinga bawah dan bahunya berjarak
sejauh perjalanan selama tujuh ratus tahun. (H.R Abu Dawud) Said bin jubair
mengatakan bahwa yang dimaksud adalah delapan barisan malaikat.[26]
·
Pendekatan
Linguistik
Kata الْمَلَكُ
adalah bentuk tunggal dari kata al-Malaikah. Huruf ‘al’ yang
menghiasi awal kata al-malak berfungsi untuk menunjuk kepada jenis, dan karena
itu kata al-malak dipahami dalam arti jenis malaikat dan yang dimaksud adalah
malaikat-malaikat. Keberadaan malaikat dipenjuru-penjuru langit ada yang
memahaminya sebagai simbol kehancuran sehingga mereka bagaikan mengungsi ke
tempat-tempat yang masih bisa didiami.[27]
Al-Baqa’i, memahaminya sebagai
simbol dari kuasa Allah yang ketika itu bagaikan menampakan kuasaNya dengan
memamerkan tentara-tentaranya serta singgasanaNya yang dipikul oleh delapan
malaikat. Ada riwayat yang menyatakan bahwa kini yang memikul Arsy ada empat.
Tetapi, untuk menggambarkan kehebatan dan kedahsyatan kiamat, ketika itu yang
memikulnya menjadi delapan.[28]
Dalam tafsir al-Misbah yang dinukil dari Al Baqa’i menulis bahwa:
Angka
tujuh digunakan sebagai angka yang melambangkan makna banyak, itu karena setiap kita ingin memperbanyak sesuatu,
kita menambahkan dengan angka sesudahnya. Ini berarti adalah penambahan yang
tidak berakhir. Angka tujuh menurutnya menggambarkan seluruh jenis angka. Itu
sebabnya menjadi lambang banyak. Angka
tujuh mengandung angka ganjil dan genap, tunggal dan ganda, yakni pada angka
tujuh ada angka satu, tiga dan lima yang merupakan angka ganjil. Ia juga
mengandung yang ganda, yakni baik ganda dari yang satu yaitu dua, maupun ganda dari yang ganda yaitu
empat. Dengan demikian semua jenis angka dicakupnya dan kerena itu menjadi
simbol dari makna banyak.[29]
وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا menurut
Hasan Al-Basri, “Yaitu pada pintu-pintu langit.” Ar-Rabi bin Anas
mengatakan bahwa para malaikat berada pada tiap-tiap ujung runcing langit,
mereka menyaksikan seluruh penduduk bumi.
·
Pendekatan
Sufistik
Sayyid Quthub
mengomentari ayat ini antara lain bahwa manusia tidak mengetahui siapa yang
delapan itu dan apakah ia, sebagaimana manusia tidak dapat mengetahui apa itu
Arsy dan bagaimana ia dipikul. Allah juga tidak membebani manusia untuk
mengetahui kecuali sebatas apa yang disampaikan oleh Allah SWT terhadap
makhlukNya.[30]
2)
Al-Muddatsir [74] :30
عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
Artinya: “Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).”
Menurut Quraish Syihab, Maksud dari sembilan belas
malaikat dalam ayat ini, yaitu malaikat penjaga neraka Saqar yang membakar
kulit manusia. Salah satunya Malaikat Zabaniyah, fostur mereka sangat besar
perangainya keras dan tegas. Ibnu Hatim meriwayatkan dari Al-Barra, beberapa
rahib dari Yahudi, bertanya kepada salah seorang sahabat Nabi saw. tentang
penjaga neraka jahannam. Sahabat itu menjawab, “Allah dan RasulNya lebih
mengetahui” kemudian seseorang menyampaikan hal tersebut kepada beliau, maka
saat itu turunnlah ayat,”Dan diatasnya ada sembilan belas (malaikat
penjaga).[31]
Ayat diatas tidak menjelaskan apa
yang dimaksud dengan jumlah sembilan belas itu. Apakah orang, kelompok atau
apapun. Pakar hadits At-Tirmidzi meriwayatkan melalui shabat nabi Jabir Ibnu
Abdillah ra. Yang kesimpulannya bahwa orang Yahudi bertanya kepada sekelompok
sahabat Nabi saw, “Apakah Nabi anda mengetahui jumlah malaikat penjaga neraka
?” Para sahabat menjawab” Akan kami tanyakan kepada beliau”dan setelah
menanyakannya, maka turunlah ayat tersebut.[32]
Sementara para ulama mempertanyakan
rahasia angka sembilan belas itu. Ibnu Abi Al- Asbu’ menguraikan bahwa batas
satuan adalah angka sembilan dan awal puluhan adalah angka sepuluh. Dengan
demikian 9+10 menunjukan pada bilangan yang tak terbatas. Seakan-akan ayat 30
ini menjelaskan bahwa di neraka saqar terdapat banyak sekali malaikat yang hanya
Allah yang mengetahuinya.[33]
Menurut An-Nawaihi salah seorang
ulama kontemporer tidak menggunakan bilangan tujuh atau tujuh puluh tetapi menggunakan bilangan sembilan belas
(agar terjadi persesuaian nada dan huruf ayat 30 dengan ayat-ayat sebelumnya).
Ada juga yang berpendapat bahwa pintu-pintu
neraka berjumlah tujuh buah (QS al-Hijr [15]:44) enam diantaranya untuk
orang-orang kafir, satu sisa dari yang tujuh diperuntukan bagi orang-orang
fasik.
Iman terdiri dari tiga unsur yang
tidak terpisahkan, yaitu pembenaran dengan hati, pernyataan dengan lidah, serta
pelaksanaan dengan anggota badan. Orang kafir meninggalkan ketiganya sehingga 6
pintu diperkalikan tiga unsur keimana tersebut menjadikan jumlahnya menjadi 18,
kesemuanya bagi orang-orang kafir.
Adapun orang fasik, karena pada
dasarnya mereka hanya meninggalkan satu unsur keimanan, yaitu pelaksanaan
dengan anggota badan, baginya disediakan satu pintu dari jumlah tersebut
sehingga pada akhirnya gabungan antara 18+1=19 dan inilah menurut mereka penafsiran
angka 19 pada ayat ini.
Pendapat lain menyatakan bahwa
sehari semalam terdiri dari 24 jam. Setiap muslim melaksanakan shalat lima kali
dalam sehari semalam. Kelima shalat tersenut akan memelihara yang melaksanakan
shalat lima jam untuk setiap hari sehingga sisa dari 24 jam tersebut adalah
24-5=19.
Rasyad Khalifah menjadikan angka 19
sebagai kosa kata dan huruf-huruf al-Qur’an. Menurutnya, sebagaimana yang
dikutif oleh Musthafa Mahmud dalam bukunya Min Asrar al-Qur’an surah Al-fatihah
turun sesudah surat Al-Mudatsir. Dan basmallah yang terdapat pada awalnya
merupakan penggambaran makna dari ayat 18 sampai ayat 31 surat Al-Mudatsir ini
karena basmallah itu sendiri atas 19 huruf dan setiap kata padanya terulang
atau hasil penggandaan dari 19 itu. Karena ‘isim’dalam Alquran ditemukan
sebanyak 19 kali. Kata ‘Allah’ sejumlah 19x142=2.698, kata ‘Ar-Rahman’
berjumlah 19x3 =57 kali. Dan ‘Ar-Rahim’ berjumlah 19x6=114 kali.[34]
3)
Al-Anfal [8] :9
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ
Artinya: (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada
Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang
berturut-turut”.
At-Tirmidzi
meriwayatkan bahwa Umar bin Khatab berkata, “Rasulallah SAW melihat pasukan
musyrikin yang jumlahnya seribu orang, sedangkan sahabatnya 310 orang. Maka
beliau menghadap kiblat lalu berdoa:
اللَّهمَّ
أَنْجِزْ ليِ ماَ وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تٌهْلِكْ هَذِهِ العِصاَبَةَ مِن
أَهْلِ لإسلاَمِ لاَتُعبَدْ في الأَرْضِ
“Ya
Allah, tunjukan padaku apa yang Engkau jangjikan. Ya Allah jika hari ini
pasukan kami yang kecil hancur, maka Engkau tidak lagi disembah lagi di muka
bumi.”[35]
Beliau berdoa sampai-sampai
sorbannya terjatuh, Abu Bakar mengambil sorban itu dan meletakan kembali
ketempat asalnya. Kemudian berdiri dibelakang sambil berkata,”Ya Nabi Allah
cukuplah permohonan engkau kepadaNya, Allah akan membuktikan janjiNya. Maka
turunlah ayat 9 (H.R Tirmidzi)[36]
Ayat tersebut
menerangkan keterlibatan Allah dengan menugaskan malaikat-malaikat dalam
peperangan Badar. Para sahabat yang terlibat dalam peperangan tersebut
diperintah: ingatlah ketika kamu diperintah memohon pertolongan kepada Tuhan
pemelihara kamu, yakni ketika engkau memasuki wilayah Badr hai Muhammad,
dengan diaminkan oleh pasukan kaum muslimin bermohom kiranya Allah swt
menganugrahkan kepada kaum semua kemengan menghadapi musuh yang lebih banyak
daripada jumlah kaum muslimin.[37] Para
Malaikat turun kebumi atas perintah Allah, sehingga pasukan nabi yang berjumlah
300 orang merasa lebih kuat daripada kekuatan seribu orang. Walaupun malaikat
itu tidak kelihatan oleh mata, memakai serban hijau dan ikut berperang, tetapi
menurut Hamka cerita ini termasuk israiliyat. Bantuan malaikat itu merupakan
bantuan semangat dari Allah.[38]
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dapat diambil kesimpulan bahwa, kata malaikat banyak
pengertiannya, mulai dari pengertian sebagai makhluk ghaib yang bersayap sampai
diatikan bahwa malaikat itu hanyalah sebagai energi positif dalam diri manusia,
yang senan tiasa memberikan energi untuk melakukan kebaikan.
Dunia para
malaikat adalah dunia dimana mereka berbaris bershaf-saf sebagai tradisinya dan
menanti datangnnya perintah dari Sang Khaliq sebagai penciptanya.
Malaikat tidak akan mengurangi tidak pula menambahi dengan apa yang
diperintahkan Nya. Malaikat senantiasa bersujud siang dan malam dan selalu
bertasbih menyucikan Allah SWT. mereka beribadah tiada lelah dan juga letih.
Allah menciptakan
makhluknya sesuai dengan kedudukan dan tugasnya masing masing, begitupun dengan
malaikat mereka senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rabbnya.
Jumlah malaikat
amatlah banyak, dan hanya Allah yang mengetahui pasti jumlah makhluk ciptaanya.
Dalam ayat ayat yang telah dibahas dijelaskan bahwa dalam al-Qur’an bilangan
malaikat berbeda-beda tetapi, semua penafsirannya menjelaskan bahwa angka-angka
yang dipakai untuk menjelaskan bilangan malaikat adalah angka yang menujukan
banyak.
B. Saran
Sebagai catatan akhir penulisan makalah ini, penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat serta menambah khasanah keilmuan bagi diri
penulis khususnya maupun bagi civitas akademik pada umumnya. Baik di lingkungan
Fakultas Ushuluddin maupun di lingkungan yang lebih luas. Selain itu, penulis
juga berharap makalah ini dapat menambah semangat baru dalam dunia penelitian.
Di samping dapat menambah satu pemahaman baru terhadap dunia para malaikat yang
selama ini menjadi satu doktrin agama yang dianggap sakral.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahnya
Shihab, Quraisy M. Tafsir Al-Misbah: Pesan Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2012
Tafsir ibnu Katsir, Trj. Dr.Abdullah bin Abdurrahman bin Ishaq Al Sheikh,
Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2003
Hilal Alquran,
Departemen Agama, Tafsir Ibnu Katsir dari juj30, Asbabunnuzul, Jabal:2010
Allamah M.H Thabathabai, Abu Abdullah Az-Zunjani, Mengungkap
Rahasia Alquran, Bandung, mizan: 2009
Hamka, Tafsir Al-Azhar,juz IX-X, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984
As-Suyuti, Jalaluddin,
Asbabunnujul , Sebab turunnya Ayat Alquran.
Quraish
Shihab, Jin, Iblis, Setan dan Malaikat : Yang Tersembunyi, (Jakarta,
Lentera Hati, 2006), 319
Al- Qoshiri, Sibhul Iman, Dar
al-Kitab al-Alamiyah, (Bairut Libanon, 1995 M/1412 H),
Sayyid Quthb , Asy-Syahid Tafsir
fi Zhilalil Qu’an, Dibawah Naungan Qur’an (Rabbani Press, 2008), 15
Syahrur, M Dialektika Kosmos dan
Manusia : Dasar Epistimologi Qur’ani,Terj.M. Firdaus (Bandung, Firdaus Nusa
2004), 39-40
Sarwar, H.G Filsafat al-Qur’an,Terj.
Zaenal Mugtadin Mursid, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1994), 106
https://sad4m.wordpress.com/definisipengertian-malaikat-sifat-dan-fungsi-iman kepada-malaikat-allah-swt-pendidikan-agama-islamdiunduh tanggal 28
september 2015 jam 21:36
http://abrarsenior.blogspot.co.id/2013/12/tafsir-tentang-malaikat.html
diunduh 01- 10-2015 jam 20:15
Cet I, 2006), 318
[2] Potensi diatas
dapat pula melebihi dari potensi malaikat, karena pada dasarnya manusia punya
dua potensi yang berbeda yaitu baik dan buruk, begitu pula sebaliknya, potensi
buruk manusia juga dapat melebihi setan. Al- Qoshiri, Sibhul Iman, Dar
al-Kitab al-Alamiyah, (Bairut Libanon, 1995 M/1412 H), 312
[4]
Quraish
Shihab, Jin,
Iblis, Setan dan Malaikat : Yang Tersembunyi, (Jakarta, Lentera
Hati, 2006), 319
[5] Ibnu
Katsir, Tafsir Ibnu Katsir: Trj. Abdullah bin Muhammad bin
Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh, jilid
5 (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2003), 90
[6]
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir: Trj. Abdullah bin Muhammad bin
Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh, jilid 5 (Bogor: Pustaka Imam
Asy-Syafi’i, 2003), 90
[7]
Alamah Kamal Fakih Imani, Tafsir Nurul Quran: Sebuah Tafsir Sederhana Menuju
Cahaya Al-Qur’an, Jilid 8 (Jakarta: Al-Huda, 2005), 532
[8]
Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 600
[9] Quraish Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan,
Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 601
[10]
Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 603
[11] Quraish Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan,
Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 600
[12] Quraish Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan,
Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 600
[13] H.G. Sarwar, Filsafat al-Qur’an,Terj.
Zaenal Mugtadin Mursid, (Jakarta, Raja Grafindo Persada,1994), 106
[14] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir:
Tafsir Surat Al-Anbiya, Trj. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq
Al-Sheikh, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2003), 09
[15]
Asy-Syahid Sayyid Quthb ,Tafsir fi Zhilalil Qu’an, Dibawah Naungan Qur’an (Rabbani
Press, 2008), 15
[16].
Quraish Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an, jilid 8 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 27
[17]
Asy-Syahid Sayyid Quthb ,Tafsir fi Zhilalil Qu’an, Dibawah Naungan Qur’an (Rabbani
Press, 2008), 16
[18]
Gerak
dialektika internal adalah gerak dua konflik internal yang mengandung dua unsur
yang berlawanan yang terjadi secara terus menerus dan membawa satu bentuk kehancuran
dan untuk selanjutnya diiringi dengan satu bentuk yang lain dalam kosmos atau
yang bisa disebut dengan hukum evolusi. M Syahrur, Dialektika Kosmos dan
Manusia : Dasar Epistimologi Qur’ani,Terj.M. Firdaus (Bandung, Firdaus Nusa
2004), 39-40
[19]
M
Syahrur, Dialektika Kosmos dan Manusia : Dasar Epistimologi Qur’ani,Terj.M.
Firdaus (Bandung, Firdaus Nusa 2004), 40
[20]
Ibnu
Katsir, Tafsir Ibnu Katsir: Trj. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman
bin Ishaq Al-Sheikh, jilid 7 (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i,
2003), 62
[21]
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir: Trj. Abdullah bin Muhammad bin
Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh, jilid 7 (Bogor: Pustaka Imam
Asy-Syafi’i, 2003), 62
[22]Thabathaba’i
adalah seorang pilusuf juga seorang mufasir ternama, tafsirannya multi
disiplin, artinya ia sangat hati-hati dan hampir semua penafsiran dari mufasir
yang lainya ia jelaskan dalam penafsirannya
[23]
Ibnu Asyur adalah ulama kontemporer yang
berasal dari tunisia , ia juga seorang mufasir, ahli bahasa, ahli nahwu dan
ahli bahasa
[24]Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
11 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 322
[25] Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
11 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 323
[26]
Hilal
Alquran, Tafsir Ibnu Katsir, Asbabunnuzul,Jabal Raudhatul jannah,2010 hal.517
[27]
Quraish Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an, jilid 14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 288
[28]
Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 288-289
[29]
Quraish Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an, jilid 14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002),
288-289
[30] Quraish Syihab,
Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 289
[31]
Quraish Syihab,
Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 535
[32]
Quraish Syihab,
Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 491
[33]
Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 492
[34]
Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 492
[35]
Jalaluddin
As-Suyuthi, Asbabunnujul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, Asbabunnujul Surat al-A’raf (Jakarta:
Jabal, 2009), 05
[36] Jalaluddin
As-Suyuthi, Asbabunnujul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, Asbabunnujul Surat al-A’raf (Jakarta:
Jabal, 2009), 05
[37]Quraish
Syihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, jilid
4 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 474
[38] Hamka, Tafsir
Al-Azhar,juz IX-X, (Jakarta: Pustaka Panjimas,1984) 260
Komentar
Posting Komentar